Pak Samad the Legend
Saya temukan tulisan saya empat tahun lalu (15 November 2006) tentang beberapa tokoh Salatiga waktu saya kecil. Ada ilustrasi foto dari adik saya tentang pelacuran Sembir atau Sarirejo atau Alaska(ret). Saya pindahkan ke sini saja… Harapan saya, Anda dapat mengoreksi dan melengkapi isi artikel ini.
… DAN TOKOH LAIN DALAM MASA KECIL SAYA.
SMS dari adik saya mengingatkan saya pada satu nama yang likuran tahun tak saya dengar: Pak Samad.
Bagaimana sosoknya, saya belum pernah melihatnya. Tapi waktu kecil hingga remaja saya sering mendengar namanya disebut oleh orang-orang dewasa, biasanya dalam gurauan yang susah dipahami anak kecil. Read more…
Dobol dan Konyolnya Wong Salatiga
Dulu, waktu kecil, saya bingung saat mendapati tulisan di majalah. Ada orang mati konyol. Saya pikir dia, entah siapa itu, mati dengan perasaan mendongkol, atau mengkal, atau jengkel.
Sebagai anak Salatiga saya kadung menerima “konyol” dalam arti jengkel. Sebelum berita itu Bapak saya (yang orang Yogya), sering mengoreksi kalau saya bilang “konyol” dengan, “Anyel apa konyol?“
Menurut KBBI Daring, konyol berarti “[1] tidak sopan; kurang ajar; [2] agak gila; kurang akal; [3] tidak berguna; sia-sia.” Mati konyol merujuk pada arti ketiga. Hati (yang) konyol? Mungkin arti kedua.
Ngonyolké ya berarti nganyel(a)ké. Kalau “konyolan“? Ya berarti sifat orang yang mudah kesal. Read more…
Dari Dokar, Bajingan, sampai Benggol Kècu
Sebagian orang Salatiga ada yang menyebut dokar sebagai andong. Jadi selain kata benda “dokar” dan kata kerja “ndokar”, ada pula “andong” dan “ngandong”. Padahal Salatiga tak punya andong. Yang ada hanya dokar. Roda andong itu empat, seperti di Yogyakarta — bahkan dulu kuda setiap andong itu dua, tapi karena mahal akhirnya hanya dihela seekor kuda.
Dokar mayor
Dokar Salatiga berbeda dari bendi maupun sado. Dokar lebih tinggi. Jok belakang saling berhadapan. Waktu kecil saya paling senang duduk di depan di samping Pak Kusir, dengan bonus boleh mencoba bel injak “ting-teng” dan dikentuti kuda. Read more…
Kéré Tuntang. Mana?

Sungguh mati saya jadi penasaran, dari manakah asal kata “kéré Tuntang”? Sebagai istilah, kata ini sudah bisa dibilang hampir punah. Jarang yang mengucapkan, dan hanya sedikit orang yang ingat. Orang Jawa Tengah dan Yogya usia 45 tahun ke atas biasanya pernah mendengar istilah itu: kéré Tuntang. Padahal Tuntang bukanlah kecamatan untuk kéré. Bisa-bisa warganya yang tersebar di 17 desa itu tersinggung.
Waktu kecil saya membayangkan kéré Tuntang itu benar-benar ada, mereka bermukim di bawah jembatan (sebelum ada jembatan baru), lalu menadah lemparan uang dari atas. Tentu itu imajinasi yang ngawur. Namanya juga anak. Read more…



