Skip to content

Gulat Wanita Telanjang di Sinoman

“Maling”. Saya lupa kapan mengenal kata itu. Yang pasti sebelum usia sekolah. Mungkin berbarengan dengan kata “nyolong” dan “dicolong”. Ketika rumah Mbah Parto, di sebelah rumah saya, di Sinoman, digangsir maling pada malam sebelumnya, maka pagi itu sebagai anak prasekolah saya membayangkan sosok pencuri adalah orang berbadan besar dan mengerikan.

Sosok pencuri, tepatnya “wong nayap” (pelaku pencurian siang hari), yang saya lihat pertama kali justru perempuan, di Sinoman, Jalan Imam Bonjol. Pencurinya itu dua orang. Berkain batik dan berkebaya tenun lurik.  Saya tak tahu mereka orang dari kampung mana. Mereka tertangkap di kampung di belakang rumah saya.

Ternyata mereka bukan orang mengerikan. Mereka tampak menyedihkan. Diarak oleh orang sekampung. Dalam perjalanan menuju rumah Pak Bekel (kepala dukuh) itu Lik Peri, lelaki indo bermata biru, merangkul kedua perempuan itu dan menciuminya bergantian. Orang-orang bersorak. Beberapa ibu tertawa. Anak-anak ikut bersorak. Saya belum paham itu peristiwa apa namun ikut bersorak. Baca selanjutnya…

Iklan

Jackpot atawa Amusement Center di Toko Buyut

Kata “koin” yang saya dengar pertama kali adalah pada 1972. Kata itu  terucapan teman saya saat kami masih kelas lima SD. “Apa itu?” tanya saya. Dia bilang, “Uang logam buat main jèkpot, tapi beda sama uang logam yang bisa buat jajan.”

Salatiga pada 1972, saat masih berupa satu kecamatan dengan sembilan kelurahan (ya, saya senang mengulang mantera ini), sempat memiliki tempat bermain ketangkasan yang dapat diperjudikan. Orang-orang menyebutnya “jèkpot” — tapi saya tak tahu apakah yang mereka maksudkan itu mesin berjuluk si bandit berlengan tunggal.

Nama resmi tempat itu adalah Amusement Center cap apa begitu. Saya lupa nama lengkapnya. Mungkin semacam tempat memainkan ketangkasan yang di kemudian hari disebut “dingdong” dan “mickey mouse”. Mungkin juga jenis mesinnya beragam.

Kenapa saya tak tahu karena saya sebagai anak kecil tentu saja tak boleh masuk tempat yang dijaga serdadu itu. Arena permainan itu terletak di bekas Toko Buyut di Jalan Jenderal Sudirman (Jalan Solo). Dari trotoar depan toko saya pernah melihat pintu terkuak, tampak mesin-mesin yang bising, dan koin yang menggelinding.

Kalau saya tak salah ingat, usaha itu hanya berjalan setahun. Entahlah menutup diri atau ditutup. Baru pada 1978 saya tahu bahwa usaha itu bukan milik Toko Buyut tetapi milik penyewa toko, orang dari luar kota — kalau tak salah dari Semarang. Saya tahunya dari putri keluarga Toko Buyut.

Pada 1978 itu, pemilik Toko Buyut pindah ke belakang pasar, Jalan Taman Pahlawan. Bekas toko di Jalan Solo dipakai untuk pondokan. Nah, di rumah belakang pasar itu saya melihat bekas boks neon bertuliskan Amusement Center tersandar di tembok dekat kamar mandi. Saat itu, kesan saya, banyak orang sudah lupa bahwa jèkpot atau jackpot pernah hadir di kotanya.

Persewaan Buku

Sampai pertengahan 70-an, persewaan buku masih hidup di Salatiga. Yang disewakan adalah buku cerita silat Cina (Kho Ping Hoo, Gan K.L., S.D. Liong, dan OKT), cerita silat Jawa (S.H. Mintardja), dan komik.

Selain jenis tadi ada pula novel terjemahan terbitan Roket. Yang terkenal adalah serial James Bond dari Ian Flemming. Di kemudian hari ketika serial Nick Carter popular, seingat saya persewaan malah tak menyediakan. Yang saya lihat  dati sekitar saya, para penyukanya lebih suka membeli kemudian membiarkan bukunya beredar. Carter, agen rahasia AXE, disukai karena ada adegan hot di dalamnya. 😀

Tentu selain serial Bond dan Carter, ada juga novel terjemahan Barbara Cartland, Frederick Forsyth, Alistair McLean, dan Jack Higgins.

Untuk komik, paling laku adalah jenis roman (Jan Mintaraga, Zaldy, Sim) dan komik silat (Ganes Th., Djair, Hans Djaladara, dst). Setelah komik anak-anak cerita H.C. Andersen marak, sajian persewaan pun bertambah. (Catatan: Jan, dan juga Teguh Santoso, selain membuat komik roman juga membuat komik silat)

Selain cersil dan komik, beberapa persewaan juga menyediakan majalah. Misalnya majalah humor Stop dan majalah hiburan aneka merek (Selecta, LibertyVaria, Varia NadaSenang, Violeta, Ultra, SFF [Sport fashion Film] dan entah apa lagi). Beberapa majalah itu seperti infotainment yang kita kenal sekarang. Tetapi Selecta dan Liberty lebih beraneka, memuat aneka features (berita kisah) termasuk cerita perjalanan. Baca selanjutnya…

Es Jus Pertama di Salatiga

Pada akhir 60-an, tepatnya 1969, ketika Orba baru merangkak, juice adalah sesuatu yang baru. Apalagi untuk kota sekecil Salatiga. Nah, penjual es jus pertama di Salatiga adalah toko Abadi.

Setahu saya itu toko kecil dekat Sanggar Pramuka (eks-sekolah Tjung Hwa Kung Hwi), Jalan Solo, itu menjual aneka barang kelontong, sejak kasur sampai termos. Aneh juga, kenapa tiba-tiba menjual minuman. Mungkin karena peluang bisnis. Di sanalah untuk pertama kali saya mencicipi yang namanya es jus. Harga segelas Rp 25.

Uang Rp 25 itu setara apa ya? Yang saya ingat, uang Rp 5 rupiah bisa buat jajan. Malah dua tahun sebelumnya, 1967, harga segelas wedang serbat yang dijajakan dalam gentong kecil itu “telung suku” atau “tiga suku”,  setara Rp 1,50 rupiah. Ya, satu suku adalah 50 sen.

Kembali ke es jus yang mahal itu, apa kesan saya? Aneh, enak, baru. Saya memesan jus lengkeng. Tapi saya lupa, banyak airnya atau tidak. Yang jelas saya saat itu merasa telah mencicipi kemajuan. 😀