Skip to content

Gulat Wanita Telanjang di Sinoman

4 Juni 2012

“Maling”. Saya lupa kapan mengenal kata itu. Yang pasti sebelum usia sekolah. Mungkin berbarengan dengan kata “nyolong” dan “dicolong”. Ketika rumah Mbah Parto, di sebelah rumah saya, di Sinoman, digangsir maling pada malam sebelumnya, maka pagi itu sebagai anak prasekolah saya membayangkan sosok pencuri adalah orang berbadan besar dan mengerikan.

Sosok pencuri, tepatnya “wong nayap” (pelaku pencurian siang hari), yang saya lihat pertama kali justru perempuan, di Sinoman, Jalan Imam Bonjol. Pencurinya itu dua orang. Berkain batik dan berkebaya tenun lurik.  Saya tak tahu mereka orang dari kampung mana. Mereka tertangkap di kampung di belakang rumah saya.

Ternyata mereka bukan orang mengerikan. Mereka tampak menyedihkan. Diarak oleh orang sekampung. Dalam perjalanan menuju rumah Pak Bekel (kepala dukuh) itu Lik Peri, lelaki indo bermata biru, merangkul kedua perempuan itu dan menciuminya bergantian. Orang-orang bersorak. Beberapa ibu tertawa. Anak-anak ikut bersorak. Saya belum paham itu peristiwa apa namun ikut bersorak.

Lalu tibalah kedua tersangka dan pengaraknya di rumah Pak Bekel, sekitar seratus meter dari rumah saya. Saya ikut masuk ke rumah, berdiri di depan ambin besar, tapi lupa proses tanya jawab yang berlangsung. Saya lupa bagaimana permulaannya, akhirnya kedua perempuan itu berkelahi di atas balai-balai — apakah karena diadu? Saling jambak. Saling pukul. Saling cekik. Saling cakar. Saling singkap dan renggut kebaya maupun jarik. Akhirnya mereka telanjang bulat dengan rambut panjang awut-awutan. Orang-orang bersorak.

Saat itu sebagai anak usia enam tahun saya takut melihat orang berkelahi. Dan yang tampak di depan saya sungguh menakutkan sekaligus aneh karena pelakunya telanjang bulat. Mendadak ada tangan menggamit saya. Ternyata Mbah Parto, tetangga sebelah saya. Dengan bahasa krama dia menasihati saya sambil menarik dari kerumunan, kira-kira, “Ini tidak pantas dilihat anak kecil. Mari pulang, kamu pasti ditunggu Ibu.”

Kelanjutan peristiwa saya tak tahu. Saya lupa bagaimana cara menceritakan hal itu kepada Ibu, dan saya juga lupa bagaimana tanggapan Ibu. Tetapi saya dapat pengetahuan baru: maling tak bersosok mengerikan.

Ketika saya sudah bersekolah dan pindah rumah ke Jalan Andong (Osa Maliki), setiap berangkat dan pulang sekolah selalu lewat area kantor polres untuk menyingkat jarak. Teramat sering saya melihat maling dibawa ke kantor polisi dalam keadaan bonyok. Intipan saya ke ruang interogasi, melalui celah panjang setiunggi 10 cm di antara dinding papan dan lantai tegel, pada platform  rumah panggung setinggi semeter, akhirnya membuat ngeri.

Saya tak melihat apa yang dilakukan oleh polisi. Dari lubang intip saya hanya melihat sepatu tersemir kinclong mondar-mandir dan suara bentakan. Maklumlah lantainya setinggi mata saya. Tapi yang saya lihat bukan hanya itu. Saya mendengar suara mengaduh dan mohon ampun bersahutan dengan bunyi entah tabokan atau pukulan. Saya juga melihat darah, dan juga liur, menetes-netes membasahi lantai.

Saya segera pulang, bergegas di bawah panas Mentari, menempuh jarak sekitar satu kilometer melawati perkampungan (Jangkungan), agar segera tiba di rumah. Malamnya saya tak dapat tidur. Saat itu usia saya sembilan tahun.

Tak dapat tidur akibat melihat pencuri tertangkap terulang empat tahun kemudian. Di alun-alun, pada suatu Ahad pagi, sepulang saya dari sekolah Minggu, saya melihat seorang pria dewasa kurus berbadan kecil dikejar-kejar hansip. Baru berlari tiga puluh meteran dia sudah diringkus. Lelaki itu mencuri baju dan celana milik orang yang sedang bekerja bakti mencabuti ilalang di tepi alun-alun.

Tak ada kekerasan seingat saya.  Lelaki yang sampai sekarang saya ingat wajahnya itu memohon ampun. “Maaf, saya kepepet,” ujarnya dalam bahasa Jawa. Untuk pertama kalinya saya mengenal kepepet. Para penangkap mengampuninya. Ketika dia akan dilepaskan, datanglah  seorang ibu berjarik batik dari kampung Jangkungan, berlari-lari diikuti kedua anak perempuan yang masih kecil, “Oalaaahhh Pakkk. Kenapa begini? Kita memang miskin tapi janganlah mencuri.”

Dalam hati saya menangis. Saya sering lewat kampung Jangkungan, dan melihat lelaki itu tapi tak tahu pasti yang manakah rumahnya. Kulitnya terang, bersih. Hidungnya mancung. Alisnya agak tebal. Sehari-hari bersarung kotak-kotak dan berkaos oblong. Sisiran rambutnya rapi ke belakang. Tak ada potongan menyeramkan.

Awal 70-an, saya belum mengenal kata “pengangguran”. Setelah saya agak besar barulah paham mengapa di beberapa perkampungan melihat orang yang tak bekerja pada jam kerja, tapi sosok dan tampang mereka bukanlah seperti pembersih pekarangan yang secara berkala dipanggil ke rumah oleh Ibu.

Setelah saya remaja, barulah saya agak paham mengapa banyak orang bertampang terpelajar, bahkan berpotongan priyayi, yang tak punya pekerjaan, tetapi sulit mencari pekerjaan. Saya agak bisa sok mengindentifikasi karena Bapak ikut mengurusi sebuah lembaga yang dibiayai oleh pendana di Belanda, yang salah satu syaratnya adalah mempekerjakan eks-tapol.

Si bapak yang mencuri celana dan baju itu tak bertampang pembersih pekarangan. Tetapi saya tak berani menyimpulkan apakah dia salah satu korban badai politik 65/66.

From → Nostalgia

9 Komentar
  1. waduh kok kayaknya itu diadu deh… bukan berantem ya… sampai telanjang bulat lagi… itu harusnya sudah di sensor loh.. untung jamannya belum ada ormas…:)

    • Applausr: kemungkinan besar diadu. Dengan atau tanpa ormas, soal beginian termasuk “live show paksa” sungguh tidak layak.

  2. kang oboy permalink

    +1

  3. Ketika dia akan dilepaskan, datanglah seorang ibu berjarik batik dari kampung Jangkungan, berlari-lari diikuti kedua anak perempuan yang masih kecil, “Oalaaahhh Pakkk. Kenapa begini? Kita memang miskin tapi janganlah mencuri. >> bagian ini pedih sangat😦

    • Alyak: dan ucapan itu sangat membekas dalam diri saya hingga dewasa. ;(

  4. ha yo mau korupsi bermilyard2 ga bisa y mencuri aja.

  5. djoko prasetyo permalink

    Mas penulis tinggal di Jalan Andong ????
    Kenalkah dengan sahabat saya yang keluarganya memelihara burung Merak ?
    Winarno nama sahabat saya , ciri utama yg mudah dikenali adalah “Kidal”
    Sepertinya dulu kita pernah bersama nonton TV Hitam Putih di OM Wiem …………
    Atau bahkan kita satu sekolah di DR Sumardi
    Solotigo pancen paten di hati

  6. John rambo permalink

    Lik peri tonggo kidulku pa’de..,

  7. John rambo permalink

    Sdangkan tkp pencurian kl g salah yg skrang jd warung nasgor sblh rumah dinas wawali niku nggeh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: