Skip to content

Salatiga. Naga Hijau. Kenangan. Lalu?

15 Agustus 2010

Penyakit orang tua adalah bicara masa lalu. Dulu saya mentertawakannya dan sekarang melakukannya. Buat apa, nostalgia? Ya. Mengerem laju kepikunan? Pasti. Merasa masa lalu lebih baik? Tidak. Eh, maksud saya belum tentu.

Di sini, GuyubABC, saya mendapatkan wadah penuangan dan kebetulan ingat, pun sempat — hayah, sangat blogombal. Selain soal klangenan, menulis di internet bagi saya adalah mendokumentasikan lamunan yang boleh diketahui khalayak.

Saya tiba-tiba ingat Mak Nin, penjual lotek (orang salatiga dan Semarang melafalkannya “lo-thèk”, dengan “t” kental). Mak Nin pernah saya ceritakan di sini. Bukan hanya rasa loteknya tetapi fungsi sosial sebagai perangkum informasi sosial. Dia tahu siapa saja pelanggannya, sampai ke siapa saja keluarganya berikut perjalanan asmaranya.

Suatu hal yang wajar di kota kecil. Di negeri lain pun begitu. Tukang cukur di kota ciut tahu orang-orang di kotanya. Begitu pula seorang kepala stasiun kecil di Amrik, seperti terceritakan dalam film Hachiko: A Dog’s Story (Lasse Hallström, 2009). Tak kenal semua orang tapi tahu sebagian orang.

Hidup di kota kecil membuat sebagian warga agak saling tahu — bedakan dengan saling kenal. Dalam kasus saya, ketika saya SD saya tahu wajah orang-orang tertentu yang sering berpapasan saat saya berangkat dan pulang sekolah, atau rumah mereka saya lewati.

Rute saat SD adalah yang terpanjang. Rumah di Jalan Banyubiru dan kemudian Jalan Andong, sekolah di Jalan Dokter Sumardi. Perjalanan panjang membuat saya lebih banyak bersua orang. Ketika SMP lebih dekat, cukup 17 menit berjalan penuh gegas, dan ketika SMA cukup jalan cepat enam menit dari rumah.

Wajah-wajah yang kerap saya jumpai tak saya kenal namanya. Beberapa rumah yang saya lewati sempat saya ketahui nama pemliknya karena berpapan nama; papan yang kadang bersanding atau bersusun dengan lempeng timah cetak timbul bertuliskan “Awas! Andjing Galak”. Iya, ketika EyD mulai diberlakukan pada 1975, masih banyak papan anjing yang berejaan lama.

Apa yang saya dapat dari kota kecil? Banyak. Tapi tak semuanya saya ingat.

Sebagai bocah, kalau saya simpulkan sekarang, saya tahu nama orang-orang dewasa yang menjadi local heroes maupun living legends. Pak Ngadiran, Oom Wim, Bah Untung, Hwa Djay, Djamdjuri, Pak Dipo, Min Kebo, Mbok Nyai, Darsono Kencèt (maaf, nama aslinya kalau tak salah Sri Sudarsono, pernah kuliah di ASRI), No Kadji (bukan haji), dan seterusnya. Sengaja setiap nama tak saya tempeli atribut (dikenal sebagai apa), untuk memeras ingatan kolektif kita.🙂

Masih sebagai bocah usia 10 tahun saya sudah tahu nama Pak Samad dari seorang teman karena ketiga kakaknya akrab dengan beliau.;) Dua tahun lalu, melalui e-mail, saya tanyakan soal Pak Samad kepada seseorang asal Salatiga yang dikenal berkiprah di ranah kebudayaan di Jakarta. Dia, yang akrab dengan kultur urban dan apapun yang kontemporer itu, menyebut Pak Samad penuh takzim: “Papi”.😀

Setiap kota memiliki babak kehidupannya sendiri, dan setiap babak tak hanya diisi oleh orang-orang resmi yang mewakili negara, sejak kapolres, dandim, danrem, sampai wali kota. Cerita dan sejarah kota tidak hanya dibentuk oleh orang-orang resmi itu. Babad tentang kota juga dibentuk oleh ulama, rohaniwan, saudagar, preman, germo, dan orang gila.

Internet, dengan dukungan mesin pencari dan temboloknya, memberi kesempatan warga setiap kota, dan desa, dan kampung, untuk mencatat perjalanan ruang hidupnya pada sepenggal kurun.

Mampukah GuyubABC melakukannya? Di sini saya cari Ki Ageng Suryomentaram, warga Bringin (Macanan?) yang sumber kawruh itu, dan belum menemukannya.

Masih tentang tokoh, saya punya tambahan contoh. Mungkin tidak Anda kenal, tapi dulu (1969-1970) semua tukang dokar tahu: Nogo Ijo. Itu nama lain Khoo Kong Youw, seorang suhu (sinshe merangkap paranormal, terkenal sebagai penebak lotere [Nalo]), dengan pasien dan klien dari luar kota. Dia tetangga depan rumah saya di Jalan Andong. Kepada tukang dokar, ibu saya cukup bilang, “Ngejengé Nogo Ijo, Pak.”

UPDATE:

*) Nama itu salah. Adik saya mengoreksi Kho Kong Yuow (maaf soal ejaan) itu nama orang lain, korban pembunuhan. Saya dengarnya Koh Youw atau Koh Young. Maaf.

From → Umum

12 Komentar
  1. DJOKO permalink

    Mak NIN . . . . .wow . .. . mak yuussss. . . sambil ngulek sambel kacang untuk lotek pasti sambil nyusur

    • Heru permalink

      ….bagaimana dengan lothek pungkursari (mbok Jum?),… wah, kolak e porsi ne wuakeeeek tenaan..

  2. Wah, Mak Nin sudah almarhum, Pakdhe. Tapi sekarang ada saingannya, Lothek Monginsidi. Mangga dicobi, sinambi mampir dhateng gubug kawula!

  3. Jokowo permalink

    Anake Om Wim, jenenge Sujin, Suging trus ono maneh adike sing wedok.

    • Jokowo: iya, iya. Kalo Suging saya ingat, anaknya nyentrik, mengganti setang sepeda dengan setir mobil. Iya, ada anak perempuannya.

  4. saya lupa-lupa ingat dengan nama NO KADJI boleh dieksplore untuk bantu saya mengingat terimaksih,

    • N Timbul permalink

      Klo g salah inget NO KADJI itu salah satu preman ( gali ) di takuti

  5. djoko prasetyo permalink

    Mas Penulis aku juga sekolah di DR Sumardi , perjalanan panjang dari belakang kotapraja , menyusuri alun2 , kridanggo , leyongan ke DR Sumardi.
    Saya di SD Kristen II salatiga tahun 1964 masuk , pindah dari salatiga 1969.
    Adakah Mas Penulis salah satu sahabat saya dari SD di Dr Sumardi ?
    Ada Ibu Liem , Ibu Lies , Pak Yus adalah guru yang masih saya dapat kenang.
    Winarno , Arief Sajiarto , Trinil , Sinuprih , Maryoto adalah sebagian sahabat saya yang masih lekat dipikiran.
    Salatiga obat dikala tua , pancen tenan

  6. Guntur permalink

    Jangan lupa Kukuh Subardi…:D

  7. Totok ORX permalink

    Almarhum No Kaji dulu beberapa orang mengenalnya sbg
    Gali (preman), dia sering ditemui di arena judi koplok (dadu) di pasar pitik (belakang pasar lama), teman-teman dia yg masih saya ingat Totok Garong dan Purwanto (pelatih karate Lemkari)

  8. salatiga…., benar-benar kampung halaman saya, siapa yang suka beli jangkrik di depan Reksa?

    • N Timbul permalink

      Inget reksa ingget……nonton exstra show, he he he he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: