Skip to content

Sinoman 2: Jika Ada Sumur di Halaman Bolehlah Mampir Kencing

8 Januari 2009

Rumah saya di Jalan Banyubiru 57 itu (selama 1964-1969) memiliki sumur di halaman samping. Hampir saban hari ada saja pelintas, semuanya perempuan, yang memanfaatkannya untuk numpang pipis. Datang ke sumur, menyisingkan jarik (kain batik), membungkuk atau jongkok, lalu juezzzzhhh… Setelah itu jarik diturunkan, lalu si pengencing berdiri, menimba air untuk membersihkan diri dan mengguyur lantai area sumur tak beratap itu.

Jadi jelaslah bahwa saya bukan pengintip pantat perempuan. Saban hari melihat ya biasa saja. Lagi pula kan masih bocah. Sudah sumurnya terbuka, di samping halaman ada gang pula. Pelintas gang kalau mau juga bisa melihat acara pipis simbok bakul itu.Para simbok atau mbakyu itu juga cuek saja.

Saya tak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul. Mungkin sebelum keluarga kami mengontrak rumah itu. Maklumlah ketika kami menempati, di sudut halaman depan rumah sudah diokupasi oleh Mbok Minah untuk berjualan lotek.  Lokasi lincak* itu strategis. Tepat memotong sudut halaman depan, diapit oleh jalan besar dan gang. Nah para pengencing itu tampaknya, mula-mula, adalah pengudap lotek.

Setelah itu, dengan maupun tanpa mengudap, para simbok langsung saja ke sumur saya untuk juezzzhhh… Mereka itu, seperti halnya peminum kendi sediaan rumah sebelah, merasa semuanya sudah tersedia sebagai default.

Kalau dipikir-pikir, mereka itu memasuki properti orang tanpa izin, bahkan menggunakannya pun tanpa permisi — kecuali bersua pemilik rumah sehingga terpaksa bilang, “Nuwun sèwu badhé ndhèrèk dhateng wingking...” (permisi, mau numpang ke belakang). Apa boleh bikin.

*) Sejenis ambin, berpermukaan bambu atau kayu, yang memiliki lubang di salah satu tepinya. Lubang itu untuk memasukkan kaki ketika si penjual  duduk. Adapun dagangan digelar di depan si penjual, tetapi masih di atas permukaan lincak, dan radius penataannya masih dalam batas jangkauan tangan si penjual. Ringkasnya, lincak adalah solusi agar penjual tak perlu bersila atau duduk bersimpuh (timpuh).

From → Nostalgia

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: