Skip to content

Bikin Pas Foto di Masa Lalu

14 Desember 2008

Mau bikin pas foto untuk KTP, rapor, dan ijazah? Ya pilihannya cuma itu-itu saja, yang Mbak Idakirei lebih tahu. Yaitu Foto Dewi, Young (nama marga), Lauw (Lawu?), dan Jaya. Yang top ya Dewi. Selain Dewi yang terima panggilan buat motret acara keluarga adalah Hot Pasaribu. Adapun tukang foto keliling yang misuwur adalah Pak Nursin yang selalu naik  motor gede entah Norton entah AJS. Sedangkan Bah Untung, saya lupa-lupa ingat apakah selain berburu pakai senapan dia juga pakai kamera.

Nah, kembali ke Dewi dan lainnya. Dulu, sampai tahun 80-0an, foto keluarga orang Salatiga (dan pasfoto) kebanyakan buatan studio-studio itu. Khas bisnis keluarga, yang bisa motret (pakai medium format) dan mengatur lampu studio tak hanya kepala keluarga. Di Dewi misalnya, tante siapa itu bisa melakukan semuanya, termasuk tentu saja kasih aba-aba dari balik kain hitam pengerudung kamera.

Studio-studio itu betul-betul menguasai kamar gelap. Retouch film negatif sampai manipulasi pencetakan (afdruk) mereka kuasai dengan baik. Dodging dan burning menjadi hal biasa — suatu hal yang sekarang jadi mudah di Photoshop. Jika Anda berumur di atas 35, periksalah film negatif (klise) pasfoto. Pasti sudah terkena sentuhan seni agar hasil cetakannya bagus.

Nah, yang saya belum tahu adalah untuk hand coloring foto itu siapa ahlinya. Biasanya sih foto-foto tua yang dibegitukan. Saya juga tak tahu dikirim ke manakah penggarapan foto di atas piring. Yang saya tahu, pada awal 70-an ketika film berwarna mulai meluas, studio-studio itu juga mengageni cuci cetak. Tapi film dikirim ke (kalau tak salah) Semarang. Maklumlah, minilab belum lumrah. Bisa empat hari baru jadi.

Oh ya ada satu studio yang saya lupa namanya, di Jalan Pemotongan (bukan Dewi, bukan Lauw). Pada 1990 saya lihat studio itu masih pakai backdrop klasik lukisan tangan bertema teras rumah loji — betul, kayak layar latar ketoprak. Tiga tahun kemudian saya ke sana lagi, untuk berfotoria ala jadul, studionya sudah tutup.

Tentu kebutuhan cuci cetak orang Salatiga saat saya kecil dan muda dulu masih terbatas. Mungkin kalau meminta kita bisa memilih jenis kertas dan teknik cetak yang sesuai dengan film kita (dari Orwo sampai Ilford). Di Yogya, kota kedua saya, hal itu bisa saya dapatkan. Makanya saya dulu punya arsip contact print, sebagian di atas kertas hard.

Tentang Dewi, yang saya ingat adalah ini. Di sebelahnya ada gang. Papan namanya rendah bisa bikin kejedug kepala orang. Set studio mengenal pagar dan pot. Selebihnya adalah khas kehidupan kota kecil: juraan studio tak kenal nama tapi kenal tampang beberapa keluarga yang menjadi pelanggan. 🙂

Soal lain? Saya mengagumi kerja seni studio-studio itu tapi heran dengan kemampuan matematika mereka. Kalau kita menanya 4 kali 6, atau 2 kali 3, maka jawabannya bukan 16 maupun 6. Maaf. Ini cuma guyon anak sekolah waktu itu.😀

From → Nostalgia

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: