Skip to content

Mak Nin, Warung Lotek Pusat Info

28 Oktober 2008

Saya tak tahu apakah Mak Nin masih sugeng (hidup). Saya terakhir kali jajan lotek ke sana 12 tahun lalu. Lokasi warung Mak Nin itu di gang yang bisa diakses dari Jalan Brigjen Sudiarto (nama baru sejak 1970, menggantikan Jalan Kawedanan).

Dua hari lalu saya bernostalgia soal Salatiga dengan Yusro M. Santoso (orang Kalioso Kidul, belakang Makutoromo), bekas wartawan Tempo dan Editor yang kemudian ikut mendirikan Cek & Ricek. “Mak Nin,” kata Yusro, “adalah tempat gaul, pusat info anak-anak muda saat itu.”

Begitulah adanya. Mak Nin tahu banyak tentang pelanggannya. Ketika saya ngelotek 12 tahun lalu itu saya pun heran. Mak Nin tak tahu nama saya tapi tahu rumah saya, nama ayah saya.Bukan hanya itu, Mak Nin juga tahu siapa saja kakak-kakak istri saya –– tapi dia tak tahu nama istri saya.

Lebih dari itu Mak Nin hapal mbakyu dan adik saya. Maka saat itu saya juga menanya kepadanya tentang teman-teman saya yang dulu sering jajan ke sana. Intinya ingin tahu kabar mereka.

Tapi siapa Mak Nin? Saya tak tahu nama lengkapnya. Saya hanya ingat susurnya, celotehnya yang spontan, dan gigi emasnya. Tentu tak saya lupakan sedapnya lotek berkencur dan suguhan kolak sebagai pembuka.

Sebelum menempati rumah terakhir Mak Nin buka warung sekitar 70 meter dari tempat barunya, pas di tikungan (saat itu suaminya masih hidup). Dia menempati rumah baru sekitar 1974, bersama keponakan bernama Panto.

Di rumah baru identitas lama ikut pindah. Yaitu beberapa lukisan (cat minyak di atas kanvas) dan foto-foto Bung Karno. Pada masa Soeharto kuat mencengkeram, tak semua orang berani menyatakan diri sebagai Sukarnois. Mak Nin memasang foto-foto pemakaman Bung Karno. Saya ingat, ada Ratna Sari Dewi dalam foto seukuran kartu pos yang dibingkai itu.

Apa yang Anda ingat tentang Mak Nin?

From → Nostalgia

2 Komentar
  1. djoko prasetyo permalink

    Pemain PSSI yang pernah di TC Ngebul Salatiga tahun 1967 – 1968 adalah langganan Loteknya, rumah kami satu jalan dengan Mak Nen di Jalan Sumbing 880 , Mak nen rame jika musim Ujian SMA ,SMP karena para guru pesan lotek + lontong.
    20 tahun sejak tahun 1970 , kami kesana dan ingatan Mak Nen masih luar biasa , masih ingat betul susunan keluarga kami yang delapan bersaudara.
    Solotigo memang mengakumulasi memori ruaar biasa

  2. rianoryz permalink

    Oh ya pak, jadi ingat pas waktu saya kecil tahun 90an. Di jalan kalinyamat tepatnya sekarang jadi gor badminton.itu dulu ada warung bubur bukanya pagi.rame banget. Kalo gak salah bubur “nyak pien”. Menurut saya buburnya khas banget.apalagi bubur tumpang nya, disajikan pas puuuaanas puuuanass nya. Tapi sekarang tinggal kenangan. Entah Nyak Pien sekarang dimana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: