Kéré Tuntang. Mana?

Sungguh mati saya jadi penasaran, dari manakah asal kata “kéré Tuntang”? Sebagai istilah, kata ini sudah bisa dibilang hampir punah. Jarang yang mengucapkan, dan hanya sedikit orang yang ingat. Orang Jawa Tengah dan Yogya usia 45 tahun ke atas biasanya pernah mendengar istilah itu: kéré Tuntang. Padahal Tuntang bukanlah kecamatan untuk kéré. Bisa-bisa warganya yang tersebar di 17 desa itu tersinggung.
Waktu kecil saya membayangkan kéré Tuntang itu benar-benar ada, mereka bermukim di bawah jembatan (sebelum ada jembatan baru), lalu menadah lemparan uang dari atas. Tentu itu imajinasi yang ngawur. Namanya juga anak.
Di luar soal kéré, Tuntang lebih dikenal karena dua hal. Pertama: Stasiun Tuntang, yang mulai beropersi 21 Mei 1873. Kedua: kapitulasi Tuntang, pada 17 September 1811, saat Belanda menyerah kepada Inggris — dan kita tahu, guru sejarah menyukai istilah ini: bertekuk lutut.
Stasiun Tuntang adalah bagian dari jaringan Ambarawa-Tuntang-Bringin-Kedungjati. Mungkin sebagai pengumpan untuk rute Semarang-Solo yang melewati Kedungjati. Jalur rel Semarang-Solo dibangun tidak hanya untuk kepentingan ekomomis (perkebunan dan kehutanan) tetapi juga militer. Itu sebabnya Kedungjati, yang di tengah hutan, lebih hidup ketimbang Tuntang yang di tepi jalan raya Semarang-Salatiga-Solo. Sampai awal 70-an Kedungjati masih memiliki losmen, salah satunya (kalau tak salah) milik keluarganya Waluyo, anak SMA Kristen (masuk 1976) yang pintar voli dan jadi model majalah Topchords itu.
Perihal Tuntang, sekitar sepuluh kilometer dari Salatiga, dulu (entah sekarang) diakrabi oleh para pemancing ikan sungai, dan anak-anak yang yang ngeluyur dengan sepeda. Tuntang adalah batas terjauh pertama sebelum Bawen dan sebelum Ambarawa. Dari arah lain, batas terjauh pertama untuk bersepeda adalah Muncul. Setelah itu ya ke Ambarawa lalu Bawen. Bersepeda seorang diri, dengan rute Salatiga-Ambarawa-Bawen-Tuntang-Salatiga, terakhir saya lakukan saat kelas satu SMA, 1977. Bukan dengan sepeda balap maupun MTB melainkan sepeda jengki.
Setahun sebelumnya, pertengahan 1976, ketika bersepeda ke Tuntang, saya masih menyaksikan kereta yang lokomotifnya menggunakan kayu bakar. Kereta itu akan ke Bringn, dan mungkin juga Kedungjati. Ada petugas yang menggunakan stok (tongkat panjang) untuk mendorong kayu ke perapian. Itulah tugas seorang stoker, nama pelaku pekerjaan yang belum punah karena Kamus Besar Bahasa Indonesia masih mencatat kata serapan itu dengan penjelasan “juru api (pd kereta api dst)”.
Perkenalan saya dengan Tuntang adalah pada 1967, ketika diajak Bapak saya, naik ESTO. Begitu turun dari bus, sebelum menyeberang ke rumah Pak Mantri Kesehatan (anaknya bernama Bambang, ketika bersekolah di SMAK 1 dia kadang naik motor BMW), Bapak menjelaskan satu hal yang saya ingat sampai sekarang, “Lihat tanahnya. Tanah Tuntang itu merah karena lempung. Kenapa beda karena…”
Saya lupa penjelasan dia setelah “karena…”. Tapi percayalah, Bapak adalah pemandu yang baik. Bepergian bersamanya selalu mendapatkan cerita pengaya pengetahuan. Sayang saya belum mendapatkan cerita tentang kéré Tuntang.
© Hak cipta foto lama stasiun Tuntang (1910) tidak diketahui



yg menarik ttg Tuntang bagi saya yg org Solo ini adalah setelah sekian lama menjadi terminal bayangan utk org2 yg nyegat bis ke Magelang & Yogya, baru sekitar thn 94 dibangun terminal beneran
@Adi: terminal bayangan? Masa?
eh saya lupa, itu mbawen ding hihihihi …. mangap kurang ngalor paman?
tuntang tempat mbahku lho,desa tuntangku aku rindu saudaraku
Lebaran lalu, menyempatkan diri ke Tuntang. Stasiun sudah tak terurus. Menyedihkan
)
kalo ingat tuntang…ingat masa remaja hehehehe…
suka sekali mancing di sana….
Tulisan yang menarik, dan membuat saya tergoda untuk menulis tentang Kere Tuntang.
Lebih lanjut dapat dibaca di
http://slamethdotkom.wordpress.com/2011/03/28/kere-tuntang/
Salam
kalau gak salah ” kere tuntang ” adalah istilah orang berasal tuntang yang suka minta2 di daerah ambarawa.
ceritanya di ambarawa ada pasar hewan yang diadakan kalau pas pasaran “PON” sehingga ambarawa seperti ada ke-ramai-an yang lebih ramai dari hari2 biasanya. dikarenakan banyak keramaiann maka banyak orang2 tuntang yang naik kereta api/ spoor klutuk ke ambarawa untuk meminta-minta ( biasanya mereka rombongan dengan ciri khas baju yang penuh tambalan ),selain itu ada juga orang Tuntang yg jualan gethuk ( gethuk tuntang ).
Mungkin dulu sekali daerah Tuntang masih minus krn penduduknya hanya berjualan daun jati dan kayu bakar.
( itu cerita dari nenekku waktu saya masih kecil yg heran dengan orang berpakaian compang-camping penuh tambalan sambil membawa batok kelapa dan tongkat ).