ESTO si Kodok Ijo: Bus Pertama Salatiga
Sampai 1981, masih ada bus ESTO yang pintu belakangnya menghadap ke belakang; bukan di samping kiri. Pada masa itu umumnya bus sudah berpintu samping. Saya ingat, sampai 1979 pun ESTO masih punya bus yang berlantai kayu, menjalani trayek Salatiga-Ambarawa. Dan pada awal 1978 masih ada Esto yang menjalani trayek Salatiga-Semarang, ongkosnya Rp 150.
Setiap kali meninggalkan Semarang dan menanjaki Gombel, bus itu terengah-engah, tertatih-tatih. Saya lupa apakah ketika memasuki Semarang dan menuruni kecuraman Gombel dia mblandhang dengan gagah — tapi penumpangnya panik dan tiba-tiba ingat Tuhan.
ESTO dengan armada bus hijau (ada yang menjulukinya kodok ijo) adalah bus pertama Salatiga sehingga menjuluki diri “perusahaan angkutan pertama Salatiga” (Eerste Salatigasche Transport Onderneming), beroperasi sejak 1921. Juragannya bernama Kwa Tjwan Ing, mengawalinya dengan bus kecil, dan baru pada 1923 memberi nama ESTO. Trayeknya adalah Salatiga-Bringin dan Salatiga-Tuntang. Kedua kecamatan di luar kota itu memiliki stasiun kereta api, tapi Salatiga tidak dilewati sepur.
Tentang awal sejarah ESTO yang membedakan penumpang karana tekanan zaman (kolonialisme dan ekonomi), dapat Anda intip di Radio Nederland, 19 Desember 2009. Adapun catatan nasib ESTO setahun sebelumnya ada Kompas 27 Mei 2008.
Ada berapa banyak perusahaan otobus abad lalu di Jawa Tengah? Handoko, dalam Bus Indonesia, mencatat ada 80-an perusahaan. Yang menarik, Eddy van de Wal dalam Kota Salatiga Tempo Doeloe mencatat pernah ada bus SALAM (Salatigasche Autobus Maatschappij).
Menurut Krisjanto Anggarjito, juragan PO Rajawali, yang dikutip dalam Bandung Biser Community, “Dari sekian banyak Perusahaan otto bus tertua di Jawa Tengah yang tersisa tinggal Rajawali di Solo dan PO. Coyo di Tegal.”
Apakah Anda punya kenangan terhadap ESTO? Yang saya ingat, dalam usia enam tahun, pada 1967, saya diajak Bapak saya ke Tuntang naik ESTO. Dari rumah di Sinoman berjalan kaki memintasi Sinoman Tempel, setelah sampai Bancakan menunggu bus. Dalam bus saya dipangku penumpang lain, Bapak berdiri di dekat pintu depan kiri. Busnya penuh. Sumuk, padahal jendela kayu sudah dibuka.
Hal lain yang saya ingat, saya dan adik saya, bersama teman-teman dari sekolah minggu remaja, pada 1975 menyewa ESTO ke Tawangmangu. Busnya sudah bagus, seperti umumnya bus Solo-Semarang, tapi saya tidak tahu mereknya. Tanpa jendela kayu. Tanpa lantai kayu. Bukan bus yang saya naiki empat tahun kemudian ke dan dari Ambarawa.
© Hak cipta foto tidak diketahui
From → Nostalgia





Artikel ini menarik hati. Juga saya ingin bertanya: Tahukah Anda apa itu ADAM?
Salam
Ed Vos
ADAM? Saya tidak tahu apa kepanjangannya. Bisa bantu?
baru tahu kalau ESTO itu singkatan too
3 hal yang saya ingat dari esto :
pertama, kalau sudah mau berangkat si kernet membawa “slenger” lalu menyolokkannya ke mesin untuk diputar
kedua, saya pernah ikutan mendorong ESTO di tanjakan Osamaliki (setelah RSU baru) gara2 macet dan walhasil setelah nyala kami nyaris ditinggal karena sopirnya nggak mau berhenti lagi
ketiga, kalau jalannya naik ekstrim seperti di Osamaliki itu, bodynya agak ndoyong ke belakang … hehehe
Yusuf: Ya betul! Slenger! Berat itu
Itu sopir keterlaluan, njaluk dibandhemi
masa kecilku 1973 sampai 1982 aku seringkali naik bis esto salatiga -tuntang Rp.100,mkash es banyak juga jasamu
kok nggak ada foto bis ESTO yang dari kayu berwarna hijau ya.. . . . . kangen tempo doeloe. . ada yg punya up load place
esto sudah ada sejak jaman eyang kakungku…. mantan pejuang 45 dan hakim di PN salatiga…
jadi kangen masa kecil… salatiga – suruh
bus esto atau kodok ijo jurusan ambarawa – salatiga sangat monumental krn sering bunyi ” grok-grok ” tapi pada waktu itu suatu kebanggaan dan sangat berjasa terhadap teman2 yg lajon dari salatiga ke ambarawa untuk sekolah.