Lanjut ke konten

Ternyata Saya tak Begitu Mengenal Salatiga

13 Agustus 2010

Ya, saya kelahiran Salatiga, 49 tahun lalu. Ingatan mulai memudar. Maka ketika melihat peta Salatiga ada dua hal utama yang dapat saya kabarkan. Pertama: ingatan saya tentang nama tempat terpulihkan. Kedua: ada saja nama tempat yang baru saya ketahui.

Tentang nama geografis lokal, pengetahuan saya meningkat waktu SMP. Banyak teman yang berasal dari pinggir kota, dan dari mereka pula saya mengenal nama wilayah Butuh, Ngaglik, Randuacir, Polobogo, Sumogawe, Randuares, Ujung, Geyer, dan lainnya.Teman-teman yang tabah dan kuat, karena sebagian berangkat-pulang sekolah dengan berjalan kaki.

Sekolah menjadi tempat saya mengenal wilayah — tepatnya nama beberapa kawasan, tanpa mengunjunginya. Waktu SD, di SD Kristen II (kemudian menjadi SD Lab), Jalan Dokter Sumardi, saya mengenal nama kampung-kampung dari teman. Misalnya Turusan, Sumopuro, Bugel, Domas, Karangduwet, dan Karangpete.

Dengan bersekolah, pengenalan geografis lokal bertambah karena berkaitan dengan tempat tinggal teman-teman. Sebelumnya pengenalan geografis saya hanya dari kusir dokar (paling banyak menjawab dari Bener), para bakul yang datang ke rumah (Jombor, Bringin), dan tentu bapak saya yang kadang mengajak pergi “jauh” (misalnya ke Kayuwangi).

Keterbatasan pengetahuan itu saya pikir karena Salatiga pada tahun 70-an tak punya koran. Pernah sih ada, tapi hanya sebentar. Kalau tak salah namanya Ganesha. Tanpa koran lokal orang yang hanya di rumah takkan tahu dunia luar. Untungnya saya suka dolan, ngeluyur, dan menanggap orang bercerita, sehingga pengetahuan saya relatif lebih maju ketimbang anak-anak rumahan yang rajin tidur siang.

Meskipun begitu ada hal yang saya baru tahu, terutama barusan, setelah melihat peta Salatiga 1940 (dari blog Andi Widhibrata). Saya tahu Jetis, tapi tidak tahu ada Kali Jetis — saya hanya tahu Kali Ngipik di Sinoman (tak jauih dari Jetis), tempat tinggal pertama setelah pindah dari Yogya pada 1964.

Dari peta itu pula saya tahu ada Kali Kedawung dan Kali Bojo. tentang Kedawung, setahu saya itu dekat Kali Sumbo. Tapi saya tak tahu nama-nama kali, dan setelah Kali Ngipik yang saya tahu adalah Kali Nongko, dekat rumah saya yang kedua di Jalan Andong (Osa Malliki), setelah pindah dari Jalan Banyubiru (Imam Bonjol, Sinoman), 1969.

Meskipun saya tahu bahwa di Salatiga terdapat banyak kali, termasuk kali kecil. Itu sebabnya rencana jalan lingkar (Proyek Walkot 1970-an) tak segera direalisasikan karena biaya terbesar adalah pembuatan jembatan, bukan jalan. Saya, sebagai bocah, mengetahuinya dari seorang geografer yang terlibat dalam studi kelayakan.

Warga Salatiga sebaya saya, yang sejak lahir hingga kini masih bermukim di Salatiga, tentu lebih lengkap pengetahuan geografis lokalnya. Selau terbarui. Jadi bisa saja mereka tertawa geli bahkan melecehkan saya karena kurang mengenal kota sendiri.

Kelucuan itu akan bertambah setelah saya sebutkan nama kampung saya di Jalan Osa Maliki, yang ternyata selama saya tinggal di Salatiga kurang dikenal: Pengilon. :D

From → Umum

13 Komentar
  1. Ingatan masih bagus, masih bisa bikin tulisan begini, Bang Paman.. Saya pun semakin tidak mengenal kota kelahiran saya, Bogor. Pertumbuhannya yang meledak-ledak sejak akhir tahun ’80-an membikin wajahnya berubah habis-habisan…

  2. Makanya ditulis aja Mpok… Mari mari…

  3. bani permalink

    pengilon kurang terkenal…hehehhehe…kenal e malah PALANG

  4. tita susano permalink

    Maaf Mas, peta salatiga 1941 diambil dari

    http://www.salatiga.nl
    ;-)

  5. wijayanto permalink

    Butuh, Karangduwet dan Karangpete nggak pinggiran banget dong mas :). Saya dulu tinggal di Butuh (depan KPPT Taman Tani atau terkenal juga disebut “bruderan”) dan sekolah di SMP 1. Setiap hari jalan kaki pulang pergi dan tidak terasa jauh.

    • antyo permalink

      Wijayanto: Iya, ya. Maaf dan terima kasih atas koreksinya. :) Kawasan itu mulai “terbuka” tahun 80-an. Tapi sampai pertengahan 70-an terasa jauh, sudah agak di luar…

  6. Saya Tahu Pengilon, tempat itu itu terkenal kok..! Saya aja msh tau biarpun udh lama ndak plg ke Salatiga…..

    • Eckoy: oh ada yang tahu juga akhirnya :-)
      Rasanya sih lebih terkenal Togaten dan Klaseman :-)

    • djoko prasetyo permalink

      Pengilon ………… Tempat masa kecil saya berburu Langsep ,Pring Tulup

  7. Heru permalink

    …hapalan saya waktu SD klas 3 (1973), Kota Salatiga terdiri dari 7 kelurahan : Sidorejo Lor, Salatiga, Kalicacing, Ledok, Gendongan (?), ….. ada yg bisa menambahkan ?….

  8. mas kalau ga salah di pengilon ada makam mbah jinten ya mas?

  9. ada 9kel 1. kel salatiga 2. l kel. klcacing 3. kel.kutowinangun. 4. kel sidorejo lor. 5. kel ledok. 6. kel mangunsari. 7.kel gendongan. 8.kel. tegal rejo. 9 kel. bugel

  10. danilo permalink

    kalo skarang masih ada pasti mak yus sambel tumpang mbah buang he…he…he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: