Sinoman 1: Kendi Berisi Air Minum Gratis
Entah berapa kali sehari para pelintas menyinggahi rak kayu itu untuk meraih kendi lalu menenggak isinya. Air mentah. Dari sumur. Penyedia kendi itu adalah Mbah Parto, pemilik warung di sebelah saya di Sinoman. Adapun peminumnya adalah pelintas, sebagian besar pedagang, yang jalan kaki dari-dan-ke Sraten, Jombor, Bandungan, dan sekitarnya.
Saya tak begitu ingat, di sana hanya ada satu atau dua kendi. Yang saya ingat si Jarwo, bujang di warung itu, dua kali sehari mengisi kendi dengan air sumur. Air sumur, mentah tak dijerang, siapa tahu mengandung E. coli, yang tampaknya saat itu diimbangi oleh kekebalan dan kebebalan para peminum. Itu saya lihat sampai 1969 sebelum keluarga saya berpindah ke Jalan Andong (Osa Maliki).
Jelas, air minum itu gratis. Memang dulu tak sedikit rumah, atau gardu jaga, yang menyediakan kendi. Di Semarang, sekitar Jalan Petek, saya pernah menjumpainya pada awal 80-an.
Tak ada keuntungan ekonomis apapun bagi penyedia air minum. Mereka melakukannya dengan penuh kerelaan, dikarenakan niat semanak.
Sekarang yang kita perlukan di zaman modern tapi langka air bersih ini tentunya air minum gratis yang layak minum, melalui keran pencet yang menyembur ke atas itu. Tak mungkin mengandalkan kerelaan semua warga, agar mereka seperti keluarga Arya Nugraha, yang menyediakan air galonan gratis. Lha wong tak semua toko mau sediakan minuman gratis, apalagi rumah tangga — termasuk rumah saya (kecuali ada yang minta).



Lacak Balik & Ping Balik